Showing posts with label Kuliner Lampung. Show all posts
Showing posts with label Kuliner Lampung. Show all posts

Perjalanan ke Lampung : Nikmati Sate Luwes (4)

Lokasinya di Jl. K.H. Mas Mansyur, Rawa Laut, Bandar Lampung. Menurut informasi bahwa, sate ini sangat bermanfaat untuk kesehatan karena terbuat dari bumbu dan rempah-rempah yang berkualitas tinggi, bahkan ada yang didatangkan dari luar negerti, di antaranya adalah ketumbar yang katanya dari India. Cara mengolah bumbu pun tidak asal jadi, di antaranya jahe yang harus dikeringkan dulu sebelum digunakan sebagai bumbu. Yang saya agak bingung, manfaat apa yang bisa diperoleh dengan makan sate ini ya? Yang pasti, kalau saya ke sini, karena kebetulan perut sudah keroncongan minta diisi.

Ketika saya ke sana untuk mencoba, memang rasa bumbunya agak lain, atau mungkin lidah saya yang belum terbiasa? Sehingga saya kurang bisa menikmati. Selain itu juga sate kambingnya agak keras, sehingga pegal juga makannya. Yang unik di sate luwes ini, juga disediakan lalapan, tetapi anehnya koq tidak disediakan sambel?
Kenapa ya? Harganya standar, per sepuluh tusuk cuma Rp 22.000,-.

Perjalanan ke Lampung : Cicipi Pindang Raden Fattah (2)

Seharusnya hari ini pekerjaan saya di Lampung sudah selesai, tetapi sayang ada beberapa pekerjaan yang di luar perkiraan belum terselesaikan. Sehingga terpaksa hari ini saya tidak bisa kemana-mana. Dan rencana mau melanjutkan ke Bengkulu dengan seorang kawan pun gagal total. Baru sore harinya, pekerjaan tersebut dapat terselesaikan.

Malamnya dengan menggunakan kendaraan kantor saya sempatkan berjalan-jalan di sekitar kota Bandar Lampung. Dan akhirnya terdamparlah di rumah makan Pindang Raden Fattah, tepatnya di Jl. Gajah Mada No. 65 di sebelah Holland Bakery.

Masakannya lumayan enak (nilai B, skala A-F), dengan masakan special Pindang. Ada beberapa macam pindang seperti ikan, ayam, iga, dan beberapa saya lupa. Dan menu yang saya pilih adalah pindang baung (sejenis ikan), tetapi yang muncul di meja makan adalah : nasi putih semangkuk besar, otak-otak, lalapan, 4 jenis sambel, srikaya, dan potongan buah. Menurut informasi, bahwa cuma lalapan saja yang gratis, he he he...

Semua sambel sudah saya coba, tetapi yang berkenan di perut cuma sambel terasi dan sambel rusip saja. Sambel duren dan nanas, hanya sekedar dicicipi saja. Sepertinya memang tidak cocok dengan lidah saya. Sambel rusip? ternyata terbuat dari ikan yang diblender hingga hancur. Pindang baungnya enak banget tuh, layak dicoba. Harga? tidak terlalu mahal, standar. Pindang cuma Rp 7.000,-, sambel terasi Rp 2.000,-, sambel rusip Rp 2.000,- dan srikaya permangkuk kecil cuma Rp 1.500,-

Menikmati Temboyak di RM Ria


Selama tugas di Lampung, ada beberapa kali saya menikmati makanan di Rumah Makan Ria. Yaitu Rumah makan dengan spesialisasi masakan Palembang. Baru kali ini saya tahu masakan Palembang. Biasanya saya hanya tahu, masakan Sunda, Padang, dll. Tetapi baru kali ini tahu masakan Palembang. Itupun karena diajak oleh si Ari "Marcell" Item, jelek.

Makanan yang kami pilih adalah Pindang Ikan Patin, Seluang, dan sambel dan lalapan. Hal yang baru di rumah makan tersebut adalah : adanya sambel Temboyak, dan sambel nanas, dan lalapan seperti umbi kencur. Yang lainnya biasa saja. Untuk itu saya akan mereview masalah Temboyak ini. Menurut kawan saya, Endri bahwa bahan dasarnya adalah duren yang diawetkan hingga beberapa hari kemudian dikasih sambel, sehingga berasa asam. Rasanya memang aneh, mungkin karena tidak terbiasa. Kalau hanya makan sambel temboyak ini saja, sepertinya tidak bisa, jadi harus dikombinasikan dengan sambel nanas. Baru bisa masuk mulut. Saya harus menikmatinya, karena jarang bisa makan makananan yang aneh gitu. Dan akhirnya memang bisa menghabiskan setengah piring kecil saja.
Ada lagi, umbi yang rasanya seperti kencur. Sampai saat ini saya masih belum tahu nama umbi tersebut. Makan Pindang Patin, yang paling enak adalah lemak-lemaknya. Wah sedap dech.