Kalau bosen di Kuta, Pantai Geger lebih keren

Di bandingkan dengan pantai Kuta menurut saya pantai Geger lebih indah, bersih dan nyaman. Lokasinya agak tersembunyi, yaitu di sebuah Desa adat Peminge, Nusa Dua.

Jika di Kuta sangat berisik dan hingar bingar dengan suara musik, penjaja makanan, dan pengunjung, maka di sini suasananya sangat tenang. Tidak ada karcis masuk, hanya biaya parkir saja.

Pantai nya masih banyak ditumbuhi rumput laut, dan juga merupakan tempat yang menarik untuk memancing. Ketika saya kesana ada beberapa orang yang terlihat sedang beraktifitas memancing.
Uluwatu adalah nama sebuah pura tua, yang terletak di atas tebing karang yang menjorok ke lautan lepas. Sementara dinding tebing karangnya sendiri hampir tegak lurus ke laut di bawahnya. Lokasinya berada di ujung “sepatu” pulau Bali, tepatnya yaitu di desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan. Berjarak kurang lebih

Menurut informasi bahwa, pura ini merupakan salah satu dari tujuh pura tua yang menjadi pilar agama Hindu di Bali yang merupakan warisan dari Empu Kuturan dan Sang Hyang Dwijendra pada abad ke XI dan XV. Di kawasan ini juga hidup seratusan monyet-monyet yang usil. Ketika kami memasuki kawasan tersebut, penjaga kawasan wisata sudah memperingatkan agar menjaga barang-barang bawaan terhadap topi, kamera, tas, dan kacamata, karena monyet-monyet di sana suka main rampas dan membuangnya begitu saja.

Untuk memasuki area ini, pengunjung diwajibkan menggunakan sehelai kain ungu dan selendang kuning dengan menyewanya di pintu masuk, sebesar Rp 3.000,- (sudah termasuk tiket masuk). Area parkir sangat luas, dan banyak kios-kios penjual cindra mata, makanan dan minuman. Sungguh tempat yang menarik.
Kalau mau berenang di Pantai Kuta saat ini, siap-siap kecele. Pasalnya saat ini pantainya sangat kotor, banyak sekali sampah berserakan. Hal ini disebabkan akibat banjir di daerah lain yang sampah-sampahnya masuk ke laut kemudian terdampar di kawasan pantai ini.

Sunset pun tidak menampakan wujudnya, tertutup awal tebal. Angin pun bertiup sangat keras dan sangat dingin, tidak seperti biasanya. Mau renangpun akhirnya diurungkan.

Mungkin perlu dirubah jadwal cuti, tidak lagi akhir tahun, melainkan pertengahan tahun?
Akhirnya, saya kembali ke penginapan, posting berita ini, dan tidur!!!
Alas Kedaton berlokasi di Desa Kukuh Kecamatan Marga, kota Tabanan. Ada dua hal yang menarik di tempat ini, yaitu : Monyet-monyetnya, yang berjumlah sekitar 300-an yang terbagi dalam 3 kelompok. Di mana setiap kelompok dipimpin satu raja dengan postur tubuh yang berukuran cukup besar. Berbeda dengan monyet di Uluwatu yang agak sedikit sangar, monyet di sini cenderung jinak. Kedua adanya kalong (kelelawar) yang berterbangan di atas pohon besar belakang pura.

Letak pura ini sendiri ada di dalam hutan Alas Kedaton. Memasuki areal pura, pengunjung akan diantar oleh perempuan-perempuan penjaja dagangan souvenir yang sekaligus sebagai guide-nya. Menarik, karena hanya di tempat ini para pedagang sangat tertib. Mereka memiliki nomor antri untuk bisa mengantar pengunjung berkeliling Alas Kedaton. Selesai berkeliling mereka akan mengajak tamunya mampir di toko mereka dan mencoba menawarkan dagangannya.
Semula, kami hanya akan memberi tips saja. Tetapi karena perempuan tersebut menolak, dan rupanya mereka lebih senang agar kita membeli dagangannya saja.
Dan akhirnya saya beli kaos, gantungan kunci, dan alat musik. Ternyata tidak terlalu mahal.

Jawa-Bali Overland : Daun Berguguran di Baluran

Berangkat dari rumah tanggal 1 Januari 2008, pkl 09.29 dengan tujuan Bali. Ikut dalam team : anak saya Adriel dan Debby, istri saya Komalasari, dan asisten rumah tangga, Yanto.

Kata orang ke Bali itu mahal, masa sih? Menurut saya enggak juga. Kecuali jika ingin dibawa mahal. Berikut biaya pengeluaran selama perjalanan :
Bensin Rp 100.000,- setiap kali pengisian, dikalikan 4 kali isi (SPBU Cikampek, Tegal, Pati, dan Paiton), sehingga total Rp 400.000,-.

Biaya Tol Rp 32.000,- masing-masing terdiri dari Tol Rorotan Rp 6.000, Cikampek Rp 8.500, Kanci Rp 3.500, Plumbon Rp 3.500, Dupak Rp 3.000, Porong Rp 3.000, Kebomas Rp 5.500,-.

Biaya Ferry Rp 90.000,-
Sehingga total pengeluaran adalah Rp 522.000,-.

Bagaimana dengan makanan? Sudah disiapkan sebelumnya dari rumah sehingga untuk hari pertama praktis tidak ada pengeluaran sama sekali.

Bagaimana dengan penginapan? Pilihlah penginapan yang agak jauh dari lokasi wisata, tetapi tidak juga terlalu jauh dari lokasi wisata. Selama ini, jika saya ke Bali selalu menginap di Bima Cottage di Jalan Kuta. Harga nya cukup murah mulai dari Rp 50.000,- sampai dengan Rp 130.000,- (include AC , TV dan sarapan). Setahu saya tidak ada lagi yang lebih murah dari harga tersebut. Hanya saja pelayanannya agak sedikit “standar” (kurang memuaskan).

Tiba di penginapan Kuta pkl 16.30 (wib), lengkapnya : sampai di Cikampek (10.39), Indramayu (11.33), Tegal (15.15), Pemalang (15.46), Pekalongan (16.30), Semarang (18.15), Kudus (20:38), Surabaya (03.00), Pasuruan (03:08), Probolinggo (06:54), Banyuwangi (10:15). Istirahat sebanyak 3 kali, yaitu di Tol Kanci, Yuwana, dan Paiton. Sedangkan lama perjalanan di kapal ferry adalah 1 jam. Sebagai perbandingan, jika naik bis dibutuhkan waktu 26 jam. Perjalanan saya sendiri saat ini adalah : butuh 31 jam, cukup lama. Lha ngapain berlama-lama di perajalanan? He … he … justru di situlan seninya jalan …

Gambar di atas adalah salah satu keindahan alam yang sempat saya photo, ketika melintasi Taman Nasional Baluran. Daun jati yang berguguran nantinya akan tumbuh kembali.

Jatah Cuti Tahun 2007

Jatah cuti untuk tahun 2007 masih tersisa 11 hari. Lumayan masih banyak euy, he he he.
Yang pertama, yang ingin saya sampaikan dari lubuk hati saya adalah bahwa saya harus mengucap syukur kepada Allah. Karena tahun ini Tuhan beri kesehatan, sehingga tidak mengalami sakit yang berarti. Sehingga catatan kehadiran kerja saya di perusahaan tercatat, alfa = 1 hari, ijin = 0, sakit = 0.
Ada alfa 1 hari? Yah, itu karena cuti tahun lalu kebablasan, hiks.

Tidak seperti tahun sebelumnya yang menghabiskan cuti di tempat wisata. Untuk tahun ini, akan saya habiskan dulu bersama Tuhan di Gereja. Baru pulangnya langsung berlibur.

Masalahnya, cuti tahun ini mau kemana ya? Bingung!
Cuti tanggal 31 Desember 2007 - 11 Januari 2008, tetapi hari genee belum terpikir mau kemana??? he he he...
Masih ada waktu 3 hari untuk berpikir ...

Perjalanan ke Lampung : Pulang Naik Kapal Cepat (5)

Pekerjaan rampung, jalan-jalan pun cukup, dan sekarang waktunya untuk pulang. Saya agak ragu, apakah pulangnya menggunakan Damri lagi? Ataukah menggunakan travel?. Untuk mencoba pengalaman baru, tidak ada salah saya mencoba menggunakan travel. Keuntungan menggunakan travel, kita bisa dijemput di manapun kita berada di Bandar Lampung. Hanya saja, kerugiannya, kita ikut muter-muter dulu menjemput seluruh calon penumpang yang juga ingin dijemput. Saya pikir sepertinya akan terlalu lama. Sehingga saya putuskan untuk potong kompas saja, yaitu dengan menggunakan kendaraan travel di Kilometer 10 Panjang.

Hanya sekitar 30 menit ngetem, kendaraan sudah penuh (isi 6 penumpang, Mitsubishi Kuda). Ongkosnya ternyata tidak terlalu mahal, hanya Rp 25.000,-. Selanjutnya dari Bakauheni saya menggunakan kapal cepat dengan tarif hanya Rp 30.000,- (sudah termasuk jasa pelabuhan, jasa angkutan, jasa asuransi, dan kontribusi ke Pemda). Hanya butuh waktu 90 menit ternyata saya sudah sampai di Pelabuhan Merak. Selanjutnya dari terminal Merak saya lanjutkan perjalanan dengan bis ke Jakarta dengan ongkos Rp 13.000,- (Bis APIK non AC). Sehingga total pengeluaran dari Panjang ke Jakarta hanya Rp 68.000,-, lebih murah dibandingkan jika naik Damri yang Rp 130.000,- kelas eksekutif.

Sebagai informasi bahwa jalur travel Panjang - Bakauheni ternyata jalur rebutan antara bis reguler dengan travel, sehingga sering terjadi keributan. Dan pada akhirnya yang dirugikan adalah kendaraan reguler. Kasihan juga ...

Perjalanan ke Lampung : Nikmati Sate Luwes (4)

Lokasinya di Jl. K.H. Mas Mansyur, Rawa Laut, Bandar Lampung. Menurut informasi bahwa, sate ini sangat bermanfaat untuk kesehatan karena terbuat dari bumbu dan rempah-rempah yang berkualitas tinggi, bahkan ada yang didatangkan dari luar negerti, di antaranya adalah ketumbar yang katanya dari India. Cara mengolah bumbu pun tidak asal jadi, di antaranya jahe yang harus dikeringkan dulu sebelum digunakan sebagai bumbu. Yang saya agak bingung, manfaat apa yang bisa diperoleh dengan makan sate ini ya? Yang pasti, kalau saya ke sini, karena kebetulan perut sudah keroncongan minta diisi.

Ketika saya ke sana untuk mencoba, memang rasa bumbunya agak lain, atau mungkin lidah saya yang belum terbiasa? Sehingga saya kurang bisa menikmati. Selain itu juga sate kambingnya agak keras, sehingga pegal juga makannya. Yang unik di sate luwes ini, juga disediakan lalapan, tetapi anehnya koq tidak disediakan sambel?
Kenapa ya? Harganya standar, per sepuluh tusuk cuma Rp 22.000,-.

Perjalanan ke Lampung : Taman Kupu-Kupu Gita Persada (3)

Lokasi Taman Kupu-Kupu Gita Persada ini berada di di daerah kaki Gunung Betung, Desa Tanjung Manis, Kelurahan Kemiling. Untuk menuju lokasi ini memang agak sulit, karena di sepanjang jalan tidak ada sama sekali papan informasi. Demikian juga di lokasi taman tersebut, tidak ada petunjuk bahwa tempat itu adalah sebuah Taman Kupu-kupu. Satu-satu patokan saya ke arah ini dari kota Bandar Lampung adalah bahwa lokasinya setelah Taman Bumi Kedaton, yang berjarak 7 km. Saya sendiri baru bisa menemukan, setelah 4 kali bertanya dengan penduduk setempat, bahwa lokasinya persis di depan sebuah mesjid.

Adalah seorang Dr. Herawati Soekardi, ahli kupu-kupu dari Universitas Lampung, sebagai pelopor upaya pelestarian kupu-kupu di daerah tersebut.
Awalnya lahan ini kritis, tidak ada apa-apanya, tetapi beliau mampu merekayasanya sehingga mampu menghadirkan kupu-kupu di kawasan tersebut. Dari keberhasilan tersebut, membuktikan bahwa kupu-kupu adalah barometer kondisi lingkungan di suatu daerah.

Ketika memasuki pintu halaman Taman tersebut, nampak seperti tidak berpenghuni. Tetapi tidak lama kemudian kami ditemui oleh pengelola taman tersebut, yaitu Pak Martinus. Belakangan saya ketahui rupanya anak dari ahli kupu-kupu di Lampung, Dr. Herawati Soekardi. Beruntung pada saat itu, Pak Martinus sedang melakukan implantasi telur-telur di tanaman widuri. Sehingga saya berkesempatan untuk ikut mengamatinya. Dan juga saya berkesempatan di antar berkeliling taman tersebut yang luasnya 4 Ha pada ketinggian 460 meter dpl. Di kawasan tersebut juga tersedia cage. Yang menurut Pak Martinus dimaksudkan untuk memudahkan dalam melakukan penelitian dan juga pemotretan. Di saat yang bersamaan rupanya ada beberapa mahasiswa Biologi dari Universitas Lampung yang sedang melakukan penelitian di bawah bimbingan Ibu Hera.

Menurut Martinus, bahwa yang sudah berhasil ditangkarkan sebanyak 50 spesies, dantaranya yang berkatagori langka, yaitu : Troides helena. Jenis lain seperti Perut Merah, Limau Balak, Limau Halom, Limau Tutul, Kupu Hijau, Sirsak Biru, Sirsak Hijau, Ekor Pedang, Cacapuri, Johar Kuning, Kertas, Buntar, Daun Coklat, Widuri, Kepompong Emas, dsb.
Taman Gita Persada ini sementara hanya untuk keperluan wisata edukasi, tidak untuk umum.
Keberhasilan Ibu Hera, menjadi penanda keberhasilan penangkaran kupu-kupu di habitat alami, khususnya kupu-kupu Sumatra. Berbeda dengan Taman Kupu-kupu yang lain, yang pernah saya kunjungi terkesan hanya mengumpulkan kepompong lalu dilepas dalam sebuah cage. Apa yang dilakukan oleh Dr. Herawati adalah benar-benar hasil penangkaran dan juga berhasil merekayasa habitat alami, menjadi lingkungan yang benar-benar cocok untuk kelangsungan kupu-kupu. Indonesia adalah negara dengan kekayaan keanekaragamanhayati tertinggi di dunia, sudah sepantasnya disetiap daerah memiliki taman ini. Kapan daerah lain menyusul, sehingga kami bisa kunjungi dan nikmati keindahan sayap kupu-kupu?

(Catatan : pada gambar, tidak banyak kupu-kupu yang berhasil kami photo, karena sulitnya kami mengabadikan keindahan kupu-kupu tersebut. Pada photo juga nampak Martinus yang sedang mengimplantasi telur di tanama widuri. Juga nampak Ibu Hera yang sedang berkeliling taman dengan mahasiswanya).

Perjalanan ke Lampung : Cicipi Pindang Raden Fattah (2)

Seharusnya hari ini pekerjaan saya di Lampung sudah selesai, tetapi sayang ada beberapa pekerjaan yang di luar perkiraan belum terselesaikan. Sehingga terpaksa hari ini saya tidak bisa kemana-mana. Dan rencana mau melanjutkan ke Bengkulu dengan seorang kawan pun gagal total. Baru sore harinya, pekerjaan tersebut dapat terselesaikan.

Malamnya dengan menggunakan kendaraan kantor saya sempatkan berjalan-jalan di sekitar kota Bandar Lampung. Dan akhirnya terdamparlah di rumah makan Pindang Raden Fattah, tepatnya di Jl. Gajah Mada No. 65 di sebelah Holland Bakery.

Masakannya lumayan enak (nilai B, skala A-F), dengan masakan special Pindang. Ada beberapa macam pindang seperti ikan, ayam, iga, dan beberapa saya lupa. Dan menu yang saya pilih adalah pindang baung (sejenis ikan), tetapi yang muncul di meja makan adalah : nasi putih semangkuk besar, otak-otak, lalapan, 4 jenis sambel, srikaya, dan potongan buah. Menurut informasi, bahwa cuma lalapan saja yang gratis, he he he...

Semua sambel sudah saya coba, tetapi yang berkenan di perut cuma sambel terasi dan sambel rusip saja. Sambel duren dan nanas, hanya sekedar dicicipi saja. Sepertinya memang tidak cocok dengan lidah saya. Sambel rusip? ternyata terbuat dari ikan yang diblender hingga hancur. Pindang baungnya enak banget tuh, layak dicoba. Harga? tidak terlalu mahal, standar. Pindang cuma Rp 7.000,-, sambel terasi Rp 2.000,-, sambel rusip Rp 2.000,- dan srikaya permangkuk kecil cuma Rp 1.500,-

Perjalanan ke Lampung : Naik Damri (1)

Kebetulan saat ini sedang ada tugas di kantor cabang Panjang, Lampung. Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan untuk sambil ber-backpackeria ke daerah Lampung dan sekitarnya he ... he... asyik. Kebetulan juga sudah lama saya tidak menggunakan kendaraan umum. Jadi kali ini saya mencoba menggunakan Bis Damri dari Jakarta ke Bandar Lampung. Semula agak bingung juga, di terminal mana saya harus naik bis tersebut.

Akhirnya diperoleh informasi yaitu di stasion kereta api, Gambir. Ternyata tidak sulit menemukannya, pukul 09.00 saya sudah berhasil menemukannya, yaitu dekat pangkalan Taxi Blue Bird. Sekedar informasi bahwa harga tiket untuk kelas Super Eksekutive adalah Rp 135.000,- sedangkan kelas Bisnis Rp 110.00,-. Saya memilih kelas Super Eksekutif dengan nomor Bis 3645. Bis yang jadwalnya pukul 10.00 wib, baru berangkat pukul 10.21 wib, keterlambatan tersebut menurut kondektur karena ada penumpang yang belum naik.

Tiba di dermaga Merak pkl 12.01 wib, tepat pkl 12.50 bis baru bisa naik kapal penyeberangan. Beruntung kapal yang dinaiki baru saja diresmikan penggunaannya di Dermaga 3 Merak, sebelumnya kapal KM Mentari Nusantara tersebut adalah dari Subaya untuk rute jarak jauh. Baru kali ini kapal nya agak keren, dan yang penting, bersih. Sebelumnya, wah ... jorok banget.

Tiba di dermaga Bakauheni pkl 15.25 dan sampai di Panjang pkl 17.20 wib. Hari ini tidak ada kegiatan backpaker, karena sepenuhnya menyelesaikan pekerjaan kantor, yaitu memperbaiki Server Novell. Malamnya sekitar pkl 02.00 pagi, baru saya bisa istirahat dan menginap di Hotel Pacific di Jl. Yos Sudarso No.3.

Sekedar informasi tarif kamar, Family Deluxe / New Deluxe Rp 194.000,- Single Standar Rp 92.000,-. Saya memilih New Deluxe. Fasilitas : TV, air panas, AC. Bersih, pelayanan lumayan, juga ada sarapan pagi. Sarapannya lumayan enak, ada 3 macam : bubur, roti bakar, dan ketupat sayur, tinggal pilih.

Kepiting Saus Tiram di Food Court Kelapa Gading

Lokasi yang nyaman, harga yang mahal ternyata bukan jaminan makanan itu enak. Kalau saya ber kuliner di Food Court Kelapa Gading, kebetulan saja istri saya sedang merayakan hari ulang tahunnya yang ke 40 ... wow sudah tua ternyata. Jadi sekali-kali boleh lah makan di kawasan elit tersebut. 2 ekor kepiting saus tiram, kakap bakar, dan cah kangkung cukuplah. Walaupun cuma 3 jenis, harganya lumayan juga, Rp 185.000,- . Yang mahal adalah kepiting saus tiram, yaitu Rp 88.000,-. gile bener.
Masalahnya, kalau enak sih oke-oke aja. Persoalannya koq rasanya lain ya ... seperti bukan saus tiram, pokoknya enggak enak banget dech. Kapok. Padahal dulu enggak seperti ini. Penilaian saya makan di sini adalah F untuk skala A - F. Baru kali ini penilaian saya F lho ... Semoga siempunya restaurant membaca blog ini, sehingga dapat memperbaiki kembali pelayananya.

Sebetulnya food court di sini lumayan tertib. Masing-masing pedagang tidak saling berebut konsumen. Di setiap meja sudah disediakan berbagai macam menu sekaligus berbagai macam restoran yang ada di area tersebut. Life music-nya pun selalu ada setiap malam. Cukup nyaman. Dari berbagai menu dan restoran itu, akhirnya saya pilih Ikan Bakar Ujung Pandang. Yang membuat saya tertarik makan ikan bakar Ujung Pandang, adalah bumbunya yang biasanya ada 3 macam. Saya paling suka bumbu dengan daun kemangi dan mangga, sedangkan yang menggunakan gula merah itu enggak begitu suka. Dimana lagi ada ikan bakar Ujung Pandang ya?

Cibodas dibuka lagi


Sejak kemarin (1/12) Kebon Raya Cibodas dibuka lagi. Konon katanya ada konflik antara Pemda Cianjur dengan pengelola Kebon Raya, yaitu mengenai perpakiran. Menurut saya banyak hal yang perlu dibenahi kembali, termasuk dalam hal karcis masuk. Untuk berwisata ke daerah ini, bagi yang baru pertama kali ke obyek wisata Cibodas akan membingungkan. Masalahnya di pintu gerbang yang bertuliskan "Obyek Wisata Cibodas" sudah diminta tiket masuk sebesar Rp 2.000,- per orang dan Rp 5.000,- per kendaraan. Tetapi pas masuk ke Kebon Raya-nya kita akan ditagih lagi, sebesar Rp 4.000,- per orang dan Rp 10.000,- per kendaraan. Bingungkan???
Setelah dicek kembali rupanya di pintu gerbang pertama adalah pembayaran retribusi untuk Pemerintah Daerah Cianjur. Sedangkan di pintu gerbang berikutnya adalah untuk tiket masuk ke Kebun Raya Cibodas. Pertanyaannya, kalau memang ada retribusi, kenapa sih enggak dijadikan satu saja? Selanjutnya Kebun Raya Cibodas tinggal setor ke Pemda, bukankah lebih praktis?. Dan aneh juga, jika harga retribusi separuh dari tiket masuk ke obyek wisata yang kita tuju.

Hari kedua pembukaan Kebun Raya Cibodas tersebut, terlihat masih sepi pengunjung. Mungkin banyak yang belum tahu. Informasi hanya terlihat di beberapa spanduk di sepanjang jalur Ciawi - Puncak - Cianjur saja. Dikejauhan di langit yang sudah menjelang sore, nampak 2 ekor burung Elang Jawa berputar-putar di atas pebukitan Gunung Gede Pangrango. Tidak biasanya Cibodas di sore hari masih nampak terang, biasanya sudah hujan dan berkabut.

Menunggu Rujak Bebek

Rujak bebek (bebek, bukan itik). Bahasa sundanya beubeuk, ditumbuk. Bisa dipastikan kalau makanan ini khas punya Sunda. Cara membuatnya pun sederhana. Bahan-bahannya terdiri dari pisang batu yang masih muda, jambu, bangkuang, gowok, ubi merah ditumbuk dengan lesung jadi satu ditambah bumbu-bumbu seperti garam, gula merah, dan terasi. Wah ... pokoknya enak banget. Harganya cuma Rp 3.000,- per porsi. Penyajiannya pun sangat unik, terkesan seperti main-mainan diselembar daun pisang kecil, dan sendoknya pun dari daun kelapa muda.
(Keterangan gambar : Sehabis berenang di Green Hill - Pacet, Adriel, Debby dan mamahnya sedang menunggu rujak bebek ditumbuk).

Sop Buntut Banghadji

Pulang dari SKI Tas Tajur, saya lanjutkan perjalanan ke Sukamantri Gunung Salak. Sudah lama tidak ke sini, jadi rada lupa euy jalannya, sehingga perlu beberapa kali bertanya. Rupanya jalan-jalan di sana sudah rusak parah. Dan menurut penduduk sekitar, untuk mencapai ke sana tidak bisa dilalui kendaraan. Batal, lain waktu aja dech.

Jam sudah menunjukan pukul 16.00 dan perut pun sudah keroncongan, lapar banget. Pas berhenti di lampu merah di Jl Jenderal Sudirman No 15, menemukan rumah makan Sop Buntut Banghadji. Warnanya sangat mencolok, merah. Iklan bannernya berbunyi, semangkuk nasi plus sop harganya tertulis Rp 6.500,- wah ... kayaknya murah dan enak nih. Mampir ah ...

Akhirnya yang dipilih, sop buntut goreng dan ayam bakar, loh? Rupanya yang Rp 6.500,- itu cuma nasi yang langsung dicampur sayur sop. Sop buntut goreng harganya Rp 21.000,- , penilaian saya mengenai masakan di sini, hmmm ... lumayan! Nilai B pada skala A - F.
Rumah makan ini di franchise-kan loh, web-nya http://www.banghadji.com.
Sengaja datang dari Jakarta, cuma mau minum cincau ijo. Kurang kerjaan? Enggak juga! Memang sudah niat koq, hi hi hi. Sebetulnya yang namanya cincau ijo, itu standar. Dimana-mana pasti bentuknya ya seperti itu, kaya agar-agar yang berwarna ijo. Cuma kalau beli di depan rumah, biasanya siropnya berwarna merah plus serutan es. Nah ... yang di sini berwarna putih plus santan. Kebayangkan? Kebetulan juga saya lagi terkena panas dalam, jadi klop deh.

Lokasinya di Sumber Karya Indah (SKI) Tas Tajur. Sebuah konsep paduan mutualisme, yang saling menguntungkan. Sebuah pusat pembelajaan tas Tajur yang terkenal baik di luar maupun dalam kota Bogor. Es cincau ijo tersebut menempati salah satu lokasi di dalam kompleks ruangan tersebut. Cukup ramai.

Di sana ada juga sarana kolam ikan, yang berisi ikan Arapaima gigas yang berukuran besar. Selain itu juga ada binatang kura-kura, elang jawa, kakak tua jambul kuning, dan surili. Ada juga Boogie Car, Flying Fox, dsb. Sungguh tempat menarik untuk anak-anak bermain. Makanan dan minuman di sana juga tidak terlalu mahal. Es cincau ijo harganya cuma Rp 3.000,- ada yang berasa manis ada juga yang tawar. Menurut si penjual, cincau ini dapat menyembuhkan penyakit panas dalam, bahkan menurut salah satu milis dapat menyembuhkan penyakit kanker. Benar enggak ya?

Danau di Atas Gunung, Situ Gunung

Bagi yang hobi wisata ke alam terbuka, tetapi dengan waktu yang singkat, Situ Gunung dapat menjadi pilihan yang menarik. Lokasi Taman Wisata Alam ini dapat ditempuh dalam waktu 3 jam dari Jakarta, menuju ke arah Sukabumi. Tempat wisata ini terletak di Kecamatan Cisaat, kurang lebih 15 km sebelum Sukabumi. Dengan tiket masuk sebesar Rp 7.500 dan biaya parkir Rp 2.500,-.

Situ Gunung, artinya Danau yang berada di atas gunung adalah sebuah cerita keindahan alam yang tersebar di Sukabumi. Terletak diketinggian 1000 mdpl. Danau seluas 9 hektar ini berasal dari sungai Cimana Racun. Cuma nama saja Cimana Racun, airnya sendiri tidak beracun. Di sepanjang tepi danau berderet pohon-pohon cemara dan Agathis yang menjulang tinggi, yang membuat suasana teduh. Di sisi lain dikejauhan nampak rimbunan pohon yang terletak di perbatasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Hujan rintik-rintik dan kabut yang mulai turun akhirnya membatasi pandangan kami.

Selain sebagai tempat yang menarik untuk dikunjungi. Situ Gunung juga memiliki cerita menarik. Menurut cerita, bahwa Situ Gunung ini dibuat oleh seorang buronan Belanda bernama Shahadana atau dikenal dengan nama Mbah Jalun, yaitu seorang bangsawan Mataram.
Di mana dalam pelariannya melawan Belenda pada tahun 1814 bersama istrinya dia menetap di kawasan tersebut. Di desa itu pula istrinya melahirkan seorang anak yang diberi nama Rangga Jaka Lulunta. Sebagai wujud rasa syukurnya dia membuat danau yang dibuat oleh tangannya sendiri dalam waktu 7 hari, yang kemudian diberi nama Situ Gunung.
Singkat cerita, keberadaan Mbah Jalun akhirnya diketahui Belanda dan dijatuhi hukuman gantung di alun-alun Cisaat, tetapi dia berhasil melarikan diri. Terakhir Syahadana akhirnya dikabarkan wafat di daerah Bogor.

Selain cerita di atas, ternyata kawasan ini juga pernah dikunjungi oleh para peneliti Belanda, di antaranya adalah Reindwardt (1819), Junghun (1839), JE. Teysman (1839). AR Walace (1861), SH Koorders (180), Treub (1891), Dr. Van Leuweun (1918), dan CGGJ Vam Steenis (1920) yang terkenal dengan bukunya mengenai tumbuh-tumbuhan pegunungan di Jawa.

Beberapa jenis tanaman lain yang mendominasi kawasan tersebut di antaranya adalah : Puspa (Schima wallichii), rasamala (Altingia excelsa), dan jenis-jenis dari keluarga Fagaceae. Jenis-jenis selain tersebut diatas terdapat juga saninten (Castanopsis argantea), hamirung (Vernones arborea), gelam (Eugenia fastigiata), dan kisireum (Cleistocalyx opertculata).

Ketika masih kuliah dulu beberapa kali kami mengunjungi daerah ini, saat itu kondisinya masih alami. Saat ini separuh pinggir danau dipagari oleh tembok, suatu hal yang menurut saya tidak bagus. Jika dulu ada dermaga kayu, entah sekarang lokasinya di mana saya sudah lupa, dan sepertinya sudah tidak ada lagi. Sayang.

Libur Lebaran di Ancol

Sangat jarang di Jakarta macet, kecuali setiap Lebaran. Jalan-jalan sangat lenggang dan sepi, padahal biasanya macet luar biasa. Alasan inilah yang semula saya mau ke Puncak dialihkan jalan-jalan ke Ancol. Sayang, ketika sesudah masuk ke Taman Impian Jaya Ancol, baru terlihat kemacetan yang panjang. Sehingga untuk memarkirkan kendaraan saja, sangat sulit dan merepotkan. Saya perlu dua kali keliling untuk mendapatkan parkir, dengan harapan ada mobil yang segera pulang. Pengalaman ini menjadi pelajaran, untuk menghindari jalan-jalan di hari raya. Dengan jumlah pengunjung yang membludak, seharusnya ada potongan harga. Tetapi nampaknya tiket masuk sama saja seperti hari-hari biasa, sepuluh ribu rupiah.

Mengembalikan Kesegaran di Curug Tujuh, Cilember

Selama ini jika ke berlibur ke Puncak - Bogor, yang kita tahu hanyalah Cibodas, Taman Safari, dan Perkebunan Teh. Padahal ada juga loh, lokasi menarik lainnya yaitu Curug Tujuh, Cilember. Curug tujuh merupakan objek wisata alam (wana wisata) yang cukup menarik dengan panorama alam berupa mata air dengan 7 buah air terjunnya. Selain itu juga ada taman kupu-kupu yang eksotik dan hamparan pohon pinus. Jika anda bosan dengan rutinitas pekerjaan kantor, lokasi ini dapat menjadi alternatif pilihan wisata yang menarik dan juga murah meriah. Gemercik suara air, indahnya warna kupu-kupu, dinginnya udara pegunungan, akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Lokasi wana wisata Curug Cilember ini berada didalam kawasan hutan lindung pada ketinggian 800 m di atas permukaan laut. Untuk mencapainya jika anda dari Jakarta, kurang lebih 15 km keluar dari pintu tol Gadog (Jagorawi), yaitu di sisi kiri jalan raya Puncak. Plang petunjuk informasinya sendiri ada di sebelah kanan jalan, tidak begitu jelas. Ketika belok menuju jalan ini, cukup sempit dan melewati perumahan yang cukup padat dan berkelok-kelok. Di antara rapatnya perumahan, memang seperti tidak percaya, apakah benar ada air terjun disekitar sini?. Tetapi setelah memasuki gerbang wana wisata curug cilember, pemandangan berubah drastis.

Curug Tujuh
Curug dalam bahasa Sunda artinya air terjun, jadi jumlah air terjunnya ada tujuh. Ketujuh air terjun ini terletak berurutan dimulai dari curug tujuh yang lokasinya paling bawah dekat dengan guest house. Bagi pengunjung yang suka hiking, dapat melanjutkan ke curug 6, 5, 4, dan seterusnya hingga paling atas. Jalur menuju setiap curug sangat menarik dan memiliki panorama yang indah dan khas. Untuk mencapai curug yang paling atas dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. Air terjun ini mengalir ke beberapa tempat membentuk sungai-sungai kecil berbatuan. Merupakan tempat yang menarik untuk memancing ikan gabus. Ketika ke sana ada beberapa orang yang saat itu sedang memancing, wah banyak juga hasil mereka, walaupun ikan gabusnya kecil-kecil. Kami juga menemui beberapa fauna khas yang selalu berada di perairan sungai seperti capung (Odonata) yang memiliki aneka warna, sangat indah dan jarang ditemukan di daerah lain.

Taman Kupu-Kupu
Taman Kupu-Kupu ini masih sangat sederhana, dan bersifat tertutup (in cage) berbentuk setengah bola (dome). Untuk masuk ke taman ini, pengunjung membayar tiket sebesar Rp 3.000/ orang. Sayang penghuninya tidak begitu banyak, hanya dalam hitungan jari saja yang terlihat berterbangan. Dan ada sejenis kupu-kupu yang mencoba hinggap di tangan saya, cukup menarik. Beberapa meter dari dome terdapat laboratorium penangkaran kupu-kupu, yaitu sebagai tempat kupu-kupu menaruh telur dan mencari makanan dari berbagai jenis tanaman berbunga. Di sini kita bisa mempelajari proses tahapan-tahapan perubahan bentuk tubuh kupu-kupu yang disebut metamorfosis. Sungguh proses yang sangat luar biasa. Dimulai dari telur yang menetas menjadi larva (ulat), kemudian berubah menjadi pupa (kepompong). Dan setelah beberapa lama dari kepompong tersebut akan keluar seekor kupu-kupu. Menurut Yusuf, staf penjaga laboratorium dan taman kupu-kupu, bahwa ada 12 jenis yang sudah berhasil ditangkarkan di tempat ini.


Untuk mendukung kehidupan kupu-kupu, di lokasi ini juga tersedia berbagai macam jenis tanaman bunga-bungaan dan angrek, diantaranya : bunga soka, nusa indah, sirih hutan, nona makan sirih, Phalaenopsis, Dendrobium, Cattleya, Phailus, Xandra, dsb yang totalnya sekitar 100-an jenis.

Taman Keluarga
Selain pemandangan alam, disini juga tersedia berbagai fasilitas yang mengasyikan, seperti : penginapan berupa guest house dengan tariff antara Rp 600.000 – Rp 800.000 perhari. Guest house yang berkontruksi kayu ini dapat menampung antara 15 – 20 orang. Sedangkan bagi yang ingin berkemah di alam terbuka, juga tersedia peralatan kemah, yang dilengkapi dengan sarana MCK dan Mushola. Mengenai keamanannya, tidak perlu khawatir karena dijaga 24 jam oleh hansip dan penduduk sekitar. Mereka sudah memahami arti penting pengunjung bagi kemakmuran warga desa sekitarnya.

Pajak Buah Brastagi


Walaupun tradisional, pajak (pasar) buah dan bunga di Brastagi cukup rapih, bersih, dan teratur. Hal ini pula yang membuat pasar tersebut mempunyai daya tarik tersendiri, untuk dikunjungi. Jeruk manis nampaknya lebih mendominasi di antara buah-buahan yang lain, selain markisa dan terong belanda. Terong Belanda? buah apa pula? Nah ini dia, katanya buah yang spesifik hanya di jual di daerah sini, tidak ada di tempat lain. Bentuknya mirip dengan terong yang biasa kita kenal. Bentuknya oval seperti telur. Paling enak jika dibuat jus, atau dicampur dengan markisa, menjadi jus martabe. Di Jakarta yang menjual jus terong belanda, setahu saya di rumah makan padang dekat Pelabuhan Tg Priok. Nama latin Terong belanda adalah Cyphomandra betacea Sendtn.
Klasifikasi selengkapnya Terong Belanda adalah sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospremae
Kelas : Dicotyledonae
Famili : Solanaceae
Genus : Cyphomandra
Species : Cyphomandra betacea Sendtn
Buah ini berkhasiat sebagai obat tekanan darah tinggi dan penyegar badan. Kandungan kimia : afkaloida, flavonoida dan tanin. Pasar yang cukup menarik.