Bahaya, Berenang di Pelabuhan Ratu

27 Oktober 2006 @Pelabuhan Ratu
Saat ini kondisinya sudah berubah, dibanding beberapa tahun yang lalu. Di antara perubahan itu adalah adanya jalan baru yang menuju pantai. Sebelumnya jika akan ke pantai akan melalui tempat pelelangan ikan. Saat ini tidak lagi, kecuali pulangnya. Saat ini pun Pelabuhan Ratu sudah menjadi ibu kota kabupaten Sukabumi. Sehingga kondisinya terlihat lebih baik, dibanding sebelumnya. Hanya saja masyarakat sekitar belum diberdayakan secara maksimal untuk menerima kunjungan wisatawan. Lingkungan dan kondisi nampaknya perlu dibenahi lagi. Kejadian waktu saya ke sana adalah ada suatu tempat di dekat Karang Hawu, di mana pedagang sekitar tidak berupaya untuk membuat tempat di sekitar parkiran agar mobil yang akan parkir di sana tidak terjebak pasir dan slip. Bukankah yang rugi pada akhirnya mereka sendiri, tentu kita tidak akan lagi parkir di sana. Saat itu, mobil saya memang slip. Dan sepertinya sudah menjadi pendapatan sampingan bagi orang disekitar situ untuk membantu mobil-mobil yang slip. Memang sih dia tidak melihat besaran uang yang kita berikan. Hanya saja seharusnya kan dia beri petunjuk untuk tidak parkir di tempat-tempat tertentu. Belum lagi, ketika kami akan duduk-duduk di suatu tenda. Saat itu kami cari-cari siapa pemiliknya, tetapi tidak ada yang menghampiri. Karena kebetulan kami membawa orang tua, dan tentu saja kami suruh duduk saja dulu di situ. Tetapi begitu pulangnya si penjual lapak ternyata ada di belakangnya dan mereka minta bayaran lumayan tinggi tiga puluh ribu rupiah. Mahal, karena kami baru saja pindah dari lapak yang lain yang hanya sepuluh ribu rupiah saja.
Berenang di Pantai Pelabuhan Ratu memang agak berbahaya. Selama kami di sana ada beberapa kali ombak yang sangat besar hingga mencapai ke bibir pantai. Belum lagi ombak yang dari pantai kembali ke laut, sangat kuat dan deras. Jadi harus berhati-hati jika berenang di sana. Istri saya saja, ketika berada di pantai ketimpa ombak hingga menutup seluruh badannya. Dan kadang-kadang tanpa diduga, ketika berada di paling pinggir pun, tiba-tiba datang ombak yang besar, hingga seluruh baju bisa basah.

Menikmati Temboyak di RM Ria


Selama tugas di Lampung, ada beberapa kali saya menikmati makanan di Rumah Makan Ria. Yaitu Rumah makan dengan spesialisasi masakan Palembang. Baru kali ini saya tahu masakan Palembang. Biasanya saya hanya tahu, masakan Sunda, Padang, dll. Tetapi baru kali ini tahu masakan Palembang. Itupun karena diajak oleh si Ari "Marcell" Item, jelek.

Makanan yang kami pilih adalah Pindang Ikan Patin, Seluang, dan sambel dan lalapan. Hal yang baru di rumah makan tersebut adalah : adanya sambel Temboyak, dan sambel nanas, dan lalapan seperti umbi kencur. Yang lainnya biasa saja. Untuk itu saya akan mereview masalah Temboyak ini. Menurut kawan saya, Endri bahwa bahan dasarnya adalah duren yang diawetkan hingga beberapa hari kemudian dikasih sambel, sehingga berasa asam. Rasanya memang aneh, mungkin karena tidak terbiasa. Kalau hanya makan sambel temboyak ini saja, sepertinya tidak bisa, jadi harus dikombinasikan dengan sambel nanas. Baru bisa masuk mulut. Saya harus menikmatinya, karena jarang bisa makan makananan yang aneh gitu. Dan akhirnya memang bisa menghabiskan setengah piring kecil saja.
Ada lagi, umbi yang rasanya seperti kencur. Sampai saat ini saya masih belum tahu nama umbi tersebut. Makan Pindang Patin, yang paling enak adalah lemak-lemaknya. Wah sedap dech.
Kebetulan saya mendapat tugas dinas ke kantor cabang yang berada di Lampung selama 3 hari, yaitu dari tanggal 15 – 18 Oktober 2006. Rencananya sich mau menginap di Mess kantor saja di Jl. Laks Malahayati supaya bisa hemat. Maklum dua hari yang lalu saya baru dari Medan dan pengeluaran sudah cukup besar. Tetapi karena kamarnya kotor banget, maka diputuskan untuk menginap di Hotel saja. Dan hotel yang direkomendasikan teman saya si Ari, katanya di Hotel Widara Asri, enak dan bersih. Hotel yang berlokasi di Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 97 Bandar Lampung Telp (0721) 484368 tergolong masih baru. Dengan semboyan “Enjoy Spectacular Sea View of Lampung Bay at Our Terrace Hotel” memang cukup menarik dan nyaman untuk di disinggahi. Pemandangan laut terlihat indah, dari atas hotel, karena hotelnya sendiri berdiri di atas dataran yang lebih tinggi.

Harga tiket tidak terlalu mahal, hanya Rp 220.000,- permalam, dapat sarapan setiap pagi. Si Ari memilihkan No 104 untuk saya, dekat dengan coffee shop, jadi kalau lapar tinggal jalan saja ke situ. Dan rupanya, di hotel tersebut memang tidak ada service untuk mengantar sarapan pagi ke masing-masing kamar. Pengunjungnya pun masih sepi, mungkin karena hotel baru. Saya sendiri memang tidak menyukai keramaian, jadi cocoklah jika menginap di hotel tersebut.

Rumah Makan Pasir Putih


28 September 2006 @Medan

Salah satu tempat favorit saya makan selama di Medan adalah Rumah Makan Pasir Putih. Lokasinya berada di Jl. Pangkalan Mansyur. Tempatnya enak, nyaman dengan bangunan bergaya tradisional. Makanannya pun enak-enak, di antaranya masakan china dan masakan seafood. Yang pasti tidak ada pengamen, dan harganya pun tidak terlalu mahal, wajar. Selama di Medan ini adalah kali keempat saya makan di tempat tersebut. Sebelumnya adalah dengan Pak Tris, Warto, Pak Agus, dan Nora.

17 September 2006 @ Debu-debu

Di sela-sela tugas dinas di kantor Medan, saya dan kawan-kawan kantor menyempatkan berlibur ke Pemandian Air Panas, Debu-debu di daerah Brastagi. Pemandangannya cukup bagus. Dengan latar belakang Gunung Sibayak dan sesekali uap belerang terlihat mengepul ke udara. Saya berangkat bersama dengan Pak Agus, Pak Trisno, Pak Warto dan Ibu Nora. Namanya wisata pemandian air panas, tetapi yang mandi cuma Pak Warto aja, maklum tidak pada bawa celana renang. Kok ada Pak Warto? Ya, saat itu dia sedang ada tugas di Medan, melakukan training untuk karyawan baru di Medan. Udaranya sangat sejuk, dan saat berkunjung kesana agak gerimis. Sehingga kurang leluasa untuk menikmati keindahan alam di situ. Mungkin lain kali saya akan berkungjung kembali ke daerah itu.

Brastagi

17 September 2007 @Brastagi

Udaranya cukup sejuk, kunjungan saya ke sini adalah yang kedua. Setelah sebelumnya malam-malam ke sini dengan seorang teman, sehingga tidak ada yang bisa kami lihat. Karena penasaran, hari minggunya kami berangkat kembali ke Brastagi bersama Warto, Pak Tris, Pak Agus, dan Nora. Pemandangan di siang hari terlihat sangat bagus, sambil minum-minum softdrink di warung kopi yang letaknya agak menjorok ke lembah, kami nikmati hamparan kebun-kebun sayur di bawahnya. Terpaksa memang berteduh di warung, karena saat itu cuaca sedang tidak bagus, hujan. Sehingga tidak begitu leluasa untuk menikmati keindahan tersebut. Beberapa obyek yang seharusnya banyak di bidik pun, menjadi luput. Sepertinya akan lebih bagus jika menikmati dari atas bukit di belakang warung yang kami singgahi, tetapi nampaknya cuaca tidak memungkinkan lagi. Jalan menuju kawasan ini, suasanyanya hampir mirip dengan Puncak, bedanya jika di Puncak terlihat hamparan kebun teh. Sedangkan di Brastagi adalah hutan dan lembah.

Safari Garden Hotel

21 Agustus 2006 @ Cisarua
Foto di samping adalah sebuah kolam yang terletak di tengah-tengah kawasan Hotel Safari Garden. Sekitar 14 tahun yang lalu, tempat ini selalu saya kunjungi. Bahkan ketika saya diangkat menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa, dulu dilantik di hotel ini. Juga ketika mengikuti workshop yang diadakan oleh IUCN, WWF, dan lain-lain. Karena kesibukan, baru kali ini saya menyempatkan untuk liburan 2 hari di hotel tersebut. Ada beberapa perubahan yang saya lihat dan rasakan. Saat ini lokasinya agak lebih luas, tetapi sayang, jika dulu udaranya begitu dingin, sekarang kok tidak lagi. Bahkan tidak pakai bajupun saya tidak merasa kedinginan, aneh. Saya adalah orang yang alergi terhadap suhu udara dingin, tetapi saat ini saya tidak lagi mengalami bersin-bersin. Ada sekali sempat bersin, tetapi itu karena kelamaan berendam di kolam renang. Malamnya saya nikmati sop buntut kesukaan saya dan istri. Juga pesan juice alpukat kesukaan Debby dan juice orange kesukaan Adriel. Mengenai harga, wajarlah. Tidak terlalu mahal, tetapi juga tidak bisa dibilang murah. Maklum bintang empat. Tetapi saya agak kesal juga dengan hotel bintang 4 itu, pasalnya masa tidak dapat sarapan?. Saya sempat complain, tetapi kata mereka sarapan hanya diberikan hingga pkl 9 pagi, lho? Kok tidak ada pemberitahuan ya. Memang salah sendiri, habis kelamaan berendam di kolam renang.
Hari itu, penghuni hotel tidak begitu ramai, kenapa ya, padahal itu adalah hari libur. Atau barangkali yang lainnya sudah mulai menginap sejak tanggal 17 Agustus? Bisa jadi saat ini sudah pada pulang. Hari itu dari Jakarta menuju Puncak macet total, tidak bisa bergerak. Tetapi saya tidak lewat situ. Saya potong jalur ke arah Sukamanah, Sukamaju dan keluar di Citeko. Akhirnya muncul-muncul tidak jauh dari Safari Garden. Tidak seperti perginya, pulangnya sangat lancar, maklum hanya satu arah, sementara dari arah Jakarta tidak boleh lewat. Beberapa foto koleksi bunga sempat saya abadikan, rencananya saya akan buat blog khusus bunga. Menarik kali ya?
Oh ya satu lagi, saat ini di Hotel tersebut sudah tersedia taman burung mini, dan juga ada lapangan yang cukup luas, cocok untuk rombongan.

Makam Raja Sidabutar


27 Juni 2006 @ Tomok
Makam Raja Sidabutar, berada di Tomok, makam yang terbuat dari batu utuh tanpa persambungan yang dipahat untuk tempat peristirahatan Raja Sidabutar penguasa kawasan Tomok pada masa itu. Sidabutar merupakan orang pertama yang menginjakan kakinya di Pulau Samosir. Kuburan yang sudah berumur 200 tahun itu, merupakan kubur batu. Pada batu itu, selain dipahatkan wajah sang raja, juga dipahatkan wajah seorang gadis yang konon sangat cantik. Kepadanyalah raja sangat mencintai, namun sayang bertepuk sebelah tangan. Di komplek itu pula terdapat patung orang Aceh yang bijak dan menjadi penasihat raja. Sekaligus menjadi penglima perang yang sangat dipercaya.

Boneka Sigale-gale di Tomok


26 Juni 2006 @ Tomok

Berwisata ke Danau Toba, sepertinya tidak lengkap jika tidak mengunjungi Tomok, Pulau Samosir. Lama perjalanan dapat ditempuh sekitar 45 menit dengan motor boat. Di tempat ini, yaitu di halaman Raja Sidabutar, kita bisa menyaksikan pertunjukkan Sigale-gale, kayu ukiran berbentuk manusia yang dapat menari. Hanya saja, ketika kami kesana tidak menyaksikan pertunjukan tersebut, maklum uangnya pas-pasan ... banget.

Legenda Batu Gantung di Danau Toba


25 Juni 2006 @ Danau Toba

Rencana-nya berangkat dari Medan Walk pukul 02.00 dini hari, langsung ke Danau Toba. Tetapi mendadak dibatalkan, akhirnya berangkat keesokan hari nya. Start dari Jalan Bilal pukul 10.30 dan tiba di Danau Toba sekitar pukul 15.00 wib. Sebetulnya sudah kesorean, tetapi tidak apa-apa, saya pikir akan menginap di Danau Toba, baru keesokannya kembali ke Medan. Karcis masuk, cukup murah hanya seribu rupiah perorang. Untuk menuju lokasi Batu Gantung, dapat dicapai dengan menggunakan motor boat dengan biaya Rp 300.000,- antar jemput, hingga Tomok, di Pulau Samosir.

Menurut cerita rakyat setempat, bahwa Batu Gantung tersebut adalah konon penjelmaan dari seorang putri yang dipaksa kawin, tetapi ditolak dan karena itu memutuskan melompat ke danau untuk bunuh diri, lantas tersangkut di rerumputan dan jadilah ia menjadi batu yang tergantung bersama anjingnya. Meskipun saya tidak mempercayai hal tersebut, tetapi paling tidak saya berusaha untuk menghargai legenda rakyat setempat. Dan lokasinya sendiri memang cukup menarik, untuk dikunjungi.

Semalam di Ujung Genteng


31 Maret 2006 @ Ujung Genteng

Berbekal informasi dari Kang Petrus di http://come.to/genteng berangkatlah kami sekeluarga ke Ujung Genteng. Tempat-tempat menarik yang akan dikunjungi, sudah kami catat dengan rapi dan disimpan di backpack di kantong bagian depan. Di antaranya adalah cagar alam Ujung Genteng, curug Cikantek, Pantai Ujung Genteng, Muara Cibuaya, Penangkaran penyu Citirem, Muara Citirem, tempat pelelangan ikan, dan tempat pembuatan gula.

Berangkat dari Jakarta pkl 11.00 wib, dan sampai di Sukabumi pkl 15.30 wib, karena memang sekalian mau mampir di Sukabumi. Perjalanan dilanjutkan mulai pkl 16.15 wib melalui jalur Bojonglopang, Jampang Kulon dan Surade. Dulu memang pernah ke daerah ini, tetapi 18 tahun yang lalu, sehingga praktis sama sekali tidak tahu lagi arah jalan kesini. Untuk itu, saya berjalan perlahan mencoba akan mengikuti bis kecil yang ke arah sana. Karena pikir saya, itu adalah salah satu cara praktis, kalau memang kita tidak tahu daerah tersebut. Tetapi sayang, sudah 2 jam perjalanan, jangankan mobil bis tiga perempat, ternyata tidak ada satu pun mobil yang mendahului kami. Wah bisa celaka nih, pikir saya. Saya berharap akan menemui pom bensi, tetapi sayang ketika saya tanyakan penduduk tidak ada pom bensin di sini, hanya ada di Surade. Mendadak saat itu listrik mati, gelap total dech. Akhirnya saya minta bantuan penduduk untuk membelikan bensin sebanyak 10 ltr, sambil makan makanan ringan di warung sekedar basa basi. Perjalanan saya lanjutkan, akhirnya ada juga kendaraan elf yang mendahului, saya ikuti terus yang berjalan sangat cepat, walaupun jalan di sana sangat rusak parah. Dan tidak terkejar lagi. Kendaraan saya bawa lagi dengan perlahan. Akhirnya sampai juga kami di Surade, dan bermalam di hotel Yasa. Tidak begitu bagus, tetapi lumayan lah, karena memang tidak ada lagi hotel di sana. Cuma lima puluh ribu rupiah permalam. Paginya kami lanjutkan ke Ujung Genteng, beberapa penduduk di sana, saya tanyakan, mengenai lokasi-lokasi yg saya sebutkan. Tetapi rupanya kebanyakan dari mereka malah tidak tahu lokasi tersebut. Aneh.

Persis di peta yg ada disitus Kang Petrus, kami lewati hotel Amanda Ratu. Akhirnya sampailah kami di pantai Genteng yang paling ujung. Bingung juga, mau kemana lagi, sebab saat sampai di sana, koq yang terlihat menonjol adalah club-club malam kaya di daerah di Jalan Mangga Besar gitu.

Akhirnya kendaraan dibelok ke kanan, hingga mentok dan sampailah di “cagar alam”, tetapi di pelangnya tertulis tempat latihan Angkatan Udara. Dengan hutan yang tidak begitu lebat. Kami sempatkan berisitirahat sebentar sambil minum minuman softdring, yang ternyata sudah kadaluarsa. Menunjukkan bahwa perputaran barang di sini sangat lambat. Kami teruskan perjalanan, jika sebelumnya ke arah kiri, kali ke arah kanan. Melewati tempat warung remang-remang, dan menyusuri pantai, akhirnya menemui Wisma Adi.
Ternyata tempatnya memang benar-benar tidak menarik. Panas dan pantai yang kotor. Bingung mau kemana lagi. Sedangkan jika ke Citirem, ternyata harus menjalani desa yang sangat rusak parah. Akhirnya kami kembali lagi ke Jakarta, dan mampir sebentar di tempat pembuatan gula, untuk membeli beberapa sebagai oleh-oleh.

Kalau saja Pemda setempat mau sedikit kreatif, sebetulnya daerah wisata di sini kalau dibenahi akan sangat menarik. Tempatnya mirip-mirip dengan Pangandaran. Di sana ada cagar alam, dan beberapa tempat menarik lainnya. Sayang, cagar alam saat ini sudah dijadikan tempat latihan militer. Beberapa ruas jalan sangat rusak parah. Sehingga jika membawa keluarga apalagi bawa anak kecil, sangat tidak cocok.

Kebun Raya Cibodas


12 Maret 2006 @ Cibodas

Mulanya bingung, kemana tujuan “nge-backpack” kali ini. Semula agak malas kalau ke Cibodas, paling yang dilihat dari dulu hanya itu-itu saja. Tetapi karena memang sudah 3 minggu ini lagi “BT” yang penting judulnya adalah “jalan”, dan melupakan sejenak rutinitas kantor. Karena tidak ada pilihan (murah, meriah, dekat), akhir ditetapkan bahwa akan berangkat ke Cibodas, karena ada informasi dari artikel Kompas, sekarang di Cibodas sudah ada Taman Lumut. Penasaran ingin melihat seperti apa. Sekalian mau hunting photo dengan Camera Canon EOS 350D dan Lensa Zoom EF 73-300 mm Ultrasonic.
Berangkat dari rumah pukul 09.00 wib akhirnya sampai di Cibodas pukul 14.00 wib. Waktu yang boleh dibilang agak kesorean, karena biasanya kalau sampai di sana cuaca selalu mendung.
Ternyata Cibodas kini sudah banyak berubah. Pintu masuk yang biasanya lurus saja dari pintu gerbang utama, sekarang harus belok ke arah kiri. Yang tidak ada perubahan adalah masuk gerbang utama yang harus bayar retribusi dari Pemda Cianjur masih tetap harus bayar, per orang Rp 2.000, mobil Rp 4.000,-, biaya parkir Rp 2.500,-. Agak membingungkan juga sebetulnya peraturan mengenai pembayaran retribusi ini. Sebetulnya untuk pembayaran apa? Bukankah masuk ke Taman Cibodas dipungut lagi? Kalau memang harus masuk ke kas Pemda Cianjur, kenapa tidak disatukan saja dengan tiket masuk ke Taman Cibodas. Bukankah akan lebih praktis, tidak terkesan banyak biaya. Belum lagi bayar uang keamanan kendaraan, biaya parkir.
Demikian juga penjual-penjualnya masih sama saja dari dulu, selalu agak memaksa. Hanya saja untuk naik kuda, jika dulu ada di dalam Taman Cibodas, sekarang sudah ada di luar. Ketika baik kuda, hampir saja “digetok”, masa Cuma naik kuda dari parkiran mobil ke pintu masuk Cibodas harganya Rp 25,000,- ? Akhirnya disepakati Rp 7.500, dengan catatan harus keliling, tetapi rupanya ingkar janji, ternyata hanya mengantar sampai pintu masuk saja. Jadi pelajaran, untuk waktu mendatang.

Semula akan ke Taman Lumut, tetapi karena saat ini suasana sudah berbeda dan juga waktu yang sudah agak sore. Akhirnya kami hanya menikmati lokasi-lokasi baru itu saja. Saat ini suasana taman sudah benar-benar tertata apik. Ada sungai yang dibendung dan dibiarkan airnya mengalir memotong jalanan. Dan juga ada sungai yang bisa dibuat mandi anak-anak. Wah seneng banget tuch si Adriel. Di depannya ada air terjun Cikaso.

Benar-benar tempat yang bagus, sehingga tidak terasa kalau waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 dan harus segera siap-siap pulang, kalau tidak bisa kehujanan.

Dari Jakarta ke Puncak, tidak seperti dulu yang selalu macet total. Ketika kami kesana jalanan begitu lancar, sehingga bisa menikmati sepanjang perjalanan menuju Puncak hingga pertigaan Cibodas. Sepinya kendaraan di jalur Puncak, bisa jadi saat ini orang-orang yang menuju Bandung, tidak lagi menggunakan jalur ini, melainkan lewat Tol Cipularang. Kondisi ini sebetulnya merupakan peluang bagus bagi Taman Cibodas, sebab tidak ada lagi hal yang merintangi untuk orang berjalan-jalan ke daerah tersebut.

Pulang dari Cibodas, semuanya pada kelaparan. Bingung mau makan apa, akhirnya dibuat beberapa pilihan, apakah akan makan di Rindu Alam Puncak Pas, makan Bakso Lapangan Tembak di Cipanas atau Makan Sate Shinta di Cipanas. Rupanya Mamahnya dan Debby lebih memilih makan bakso, sementera Adriel lebih suka makan sate, sedangkan saya lebih suka makan di Rindu Alam. Akhirnya yang lain pada mengalah dan disepakati makan di Rindu Alam.

Rumah makan Rindu Alam tidak seramai dulu. Dulu untuk mencari meja saja sangat sulit. Saat ini banyak meja-meja kosong. Makanannya enak banget, setiap ke Bandung saya selalu mampir, hanya saja untuk sate-nya itu, dari dulu koq bumbu kacangnya selalu tengik ya?.

Biaya yang keluar, untuk BBM Rp 80.000,- ( 17 liter), TOL : 18.000,-, makan Rp 90.000,-, Biaya masuk ke Taman Cibodas dan retribusi Rp 39.500,-, jajanan Adriel dan Debby Rp 26.500,-, jadi total pengeluaran Rp 254.000,-
Enggak mahal ya … maklum ini adalah libur kecil kaum “backpacker” , dilarang boros.

Ada T-rex di Museum Geologi Bandung


3 Januari 2006 @ Bandung

Museum ini lokasinya sangat strategis, karena letaknya di pusat kota. Sehingga mudah dilalui kendaraan umum dari berbagai arah. Lokasinya 200 meter di sebelah gedung sate. Bebeberapa informasi yang bisa diketahui, bila berkunjung ke sana, diantaranya mengenai sejarah kehidupan di muka bumi, keadaan geologi di Indonesia, dan manfaat geologi bagi manusia. Ketika masih kuliah dulu, belum pernah saya mengunjungi museum ini, baru kali menyempatkan diri. Satu hal yang sangat disayangkan, padahal dengan mengujungi museum ini, paling tidak bisa menstimulus dalam mengkaji ilmu-ilmu yang sedang dipelajari. Sengaja ke tempat ini, karena Adriel senang banget dengan yang namanya Dinosaurus. Dan ternyata di tempat ini ada beberapa koleksi hewan yang sudah punah tersebut, di antaranya T-Rex, Triceratops, dll. Adriel yang lebih banyak afal mengenai nama-nama ini. Saya sendiri tidak begitu afal.

Menurut buku panduan Museum Geologi Bandung yang saya beli, bahwa berdirinya museum geologi ini erat kaitannya dengan sejarah penelitian geologi di Indonesia sejak 1850 oleh Dienst van het Mijnwezen yang berkedudukan di Bogor (1852-1866). Lembaga ini kemudian pindah ke Jakarta (1866-1924), dan pada tahun 1924 pindah lagi ke Bandung, di Gedung Gouvernment Bedrijven (sekarang Gedung Sate). Dan tahun 1928 dibangun secara khusus gedung yang diperuntukan bagi Laboratorium dan Museum Geologi di Rembrant Straat yang sekarang disebut Jl. Diponegoro.

Terowongan di Green Canyon


2 Januari 2006 @ Cijulang

Hari ke-3 kami sekeluarga bertualang ke alam Green Canyon. Daerah ini dikenal juga dengan wisata terowongan berair. Merupakan aliran sungai Cijulang yang menembus gua dengan stalaktit dan stalaknit yang mempesona dan diapit oleh dua bukit dan bebatuan dan rimbunnya pepohonan. Lokasinya adalah sekitar 31 km sebelah barat pantai Pangandaran, tepatnya adalah di daerah Cijulang desa Kertajaya. Objek wisata ini mulai dibuka untuk umum sejak tahun 1990 dan dikembangkan menjadi objek wisata pada tahun 1991. Pada awalnya tempat ini oleh masyarakat setempat disebut dengan Cukang Taneuh (Jembatan Tanah), karena di atasnya merupakan jembatan yang menghubungkan desa Batu Karas dengan desa Kertajaya. Nama Green Canyon sendiri berasal dari turis asing yang pada tahun 1990, minta dipandu menyusuri sungai ini mulai dari jembatan desa Cijulang hingga ke hulu. Turis tersebut mengatakan bahwa tempat ini seperti Grand Canyon di Amerika Serikat. Selain itu, karena memang air sungai Cijulang yang mengalir melalui terowongan itu katanya berwarna hijau bening, sehingga tidak salah memang jika disebut lembah hijau atau Green Canyon.

Setelah perjalanan kurang lebih 45 menit dari Pangandaran akhirnya kami sampai juga di Dermaga Ciseureh, setelah terlewat. Karena memang tulisan Green Canyon tidak menghadap arah kendaraan yang lewat, melainkan sejajar dengan posisi jalan raya Cijulang – Pangandaran. Sehingga untuk yang baru pertama kali, pasti akan terlewat, apalagi saat itu suasana cukup sepi. Kami parkirkan kendaraan di tempat parkir di seberang jalan dermaga. Areal parkir cukup luas, dan banyak sekali kios-kios penjual makanan .

Setiap perahu maksimal hanya dapat dinaiki oleh 5 orang penumpang, seharga Rp 70.000,- termasuk Jasa Raharja dan Asuransi. Karena rombongan berjumlah 9 orang termasuk Adriel dan Debby, akhirnya kami menyewa 2 perahu. Selama kurang lebih 25 menit perahu tempel, yang kami tumpangi sampai di hulu tebing cadas yang berjarak sekitar 3 km sebagai tempat pemberhentian perahu.

Selanjutnya adalah berjalan kaki menaiki tebing pertama. Di tempat ini kami dapat menyaksikan keindahan tebing-tebing terjal yang penuh dengan stalaktit. Dinding cadas yang ditumbuhi lumut berwarna kehijauan mengapit dan membentuk celah sungai

Hanya saja sayang ketika kami kesana, cuaca sedang tidak bersahabat, sehingga air yang biasanya hijau, saat itu berwarna kuning coklat. Menurut pemandu, seharusnya kita dapat menyusuri batu cadas yang ada di pinggir-pinggir kali sepanjang tepian sungai. Akhirnya cukup puas kalau perjalanan kali ini hanya sampai di mulut batu cadas saja. Keindahan Green Canyon ini hanya dapat dinikmati pada musim kemarau saja, sebab pada musim hujan air sungai meluap dan terowongan Green Canyon akan terendam oleh air berwarna cokelat.

Cagar Alam Pananjung


1 Jan 2006 @ Pananjung


Untuk masuk ke Taman Wisata Alam Pananjung bisa ditempuh dengan dua cara yaitu lewat darat di pantai timur dan melalui laut di pantai barat. Pada perjalanan saat ini kami melalui laut dari Pantai Barat, dengan menyewa perahu sebesar Rp 40.000,-
Sebelum mendarat di pasir putih, nakhoda perahu menghentikan mesin dan mempersilahkan penumpang melongok ke bawah permukaan air untuk melihat berbagai jenis ikan hias. Sungguh panaroma bawah laut yang sangat indah.
Taman Wisata Alam (TWA) seluas 37,7 Ha, termasuk dalam Cagar Alam yang luasnya 530 Ha dan berada dalam pengelolaan SBKSDA Jawa Barat II. Cagar Alam ini memiliki berbagai flora dan fauna langka di antaranya adalah Raflesia padma, Rusa, dan berbagai jenis Kera.
Dulunya menurut literature, binatang penghuni cagar alam ini cukup beragam, di antaranya adalah kancil, ular, biawak, landak, ayam hutan dan banteng. Sayang saat ini sudah tidak terlihat lagi.

Ketika kami sampai di Pantai Pasir Putih, kami melanjutkan perjalanan ke tengah hutan. Ada beberapa ekor rusa dan juga monyet sempat kami lihat di sepanjang perjalanan.
Di dalam hutan terdapat beberapa gua di antaranya adalah Gua Panggung, Gua Lanang, Sumur Mudal, Keramat dan Rengganis. Cagar Alam Pananjung saat ini sebetulnya lebih rimbun dibanding 16 tahun yang lalu, ketika saya melakukan study konservasi sumber daya alam bersama rekan-rekan mahasiswa Biologi seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia.. Beberapa ekosistem masih terlihat utuh. Beberapa jenis tumbuhan laut seperti waru laut, nyamplung, dan ketapang masih nampak belum berubah.

TWA ini disahkan dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 170/Kpsts/Um/3/1978, 10 Maret 1978, yang memang diperuntukan keperluan rekreasi. Pembuatan TWA ini juga dimaksudkan untuk memberi batas yang jelas kepada masyarakat, daerah yang boleh dikunjungi dan daerah yang tidak. Sebab pada sisi dalam TWA terdapat Cagar Alam Pananjung yang hanya boleh dimasuki jika ada ijin tertulis dari BKSDA Jawa Barat II, berdasarkan SK Menteri Pertanian No 34/KMP/1961.

Selesai mengelilingi hutan, akhirnya kami kembali ke Pasir Putih berisitirahat sambil menunggu perahu yang akan menjemput. Tempat yang agak sepi dibanding Pantai Barat Pangandaran. Angin yang sejuk di antara dedaunan yang rimbun, memang mengasyikan untuk tiduran. Adriel yang sejak tadi berenang di pantai, belum juga beranjak. Padahal sinar matahari sangat panas menyegat. Sambil sesekali berteriak agar menepi dulu. Tapi tetap saja tidak beranjak. Pantainya sih landai sehingga sangat aman untuk anak-anak berenang. Hanya saja, kalau berenang jam 15.00 wib, bisa hitam tuch badan. Debby sendiri lebih asyi bermain pasir dengan mamahnya sambil minum air kelapa. Saya sendiri lebih suka tiduran di sebelah warung makanan.
Sayang waktunya sudah sore, ketika kami hendak pulang dan sempat melihat-lihat pantai di sebelah kanan ternyata banyak orang yang menyelam melihat-lihat pemadangan bawah laut. Tetapi berhubung perahu sudah menjemput dan juga waktunya yang sudah agak sore. Akhirnya kami tidak sempat menikmati kegiatan menyelam tersebut.